THE PAST
Entah sejak kapan, awan terlihat sudah berkumpul. Bergulung-gulung, mengubah langit menjadi kelabu. Tak
ada jejak-jejak manusia lagi di sekitar kawasan itu. Sekarang, tinggal si gadis cantik yang terlihat
seperti menanti sesuatu sedang duduk di bangku rumahnya.
“Lama
banget hujannya… Pingin main air hujan nih”, ucap si gadis cantik itu, pelan, lebih seperti gumaman.
“Brina…
Brina, Semua orang
takut untuk keluar dari rumah. Kamu kok malah
pingin main air hujan”
“Haduh
nek, bentar aja… Plis… Kalau nanti Brina sakit, nenek boleh marahin Brina.
Ok!”, jawab Brina
“Terserah
kamu. Nenek mau masak dulu”, kata si nenek.
“Terima
kasih nek, nenek baik deh”.
Tiba-tiba, aliran air yang mulai berjatuhan terdengar
riuh. Si gadis cantik yang bernama Brina itu, segera berlari keluar rumah. Ia
pun tertawa lepas dan menari-nari dengan lincahnya. Ia sangat suka dengan
kegiatan ini. Baginya, tak ada yang lebih istimewa kecuali main di bawah
guyuran hujan. Semenjak ditinggal orang tuanya, Brina sedikit demi sedikit
mulai tertarik pada hujan. Hingga akhirnya ya… Seperti ini.
Setelah lima belas menit berlalu, Brina menyudahi kegiatannya.
Sekarang, ia sudah cukup tenang. Ia pun segera mandi dengan air hangat yang
amat menyegarkan. Lalu, setelah mandi dan berhias diri, ia pun turun untuk
menemui neneknya di dapur.
“Nek,
apakah ada yang bisa Brina bantu?”, tanya Brina.
“Tak
usah, siapkan saja piring-piring untuk makan. Sebentar lagi, masakan nenek
sudah matang”, jawab nenek
“Baiklah
nek”, ucap Brina
Shabrina Cyntia Armadila. Itulah nama panjang dari
Brina. Gadis cantik yang sekarang hanya hidup bersama neneknya di sebuah rumah
warisan orang tuanya. Brina tak pernah mengerti, mengapa orang tuanya tak ada.
Kata nenek, orang tuanya meninggal, karena kecelakaan pesawat. Tapi, anehnya
Brina tak pernah melihat selembar pun, foto orang tuanya. Yah… Walaupun banyak
orang yang berkata bahwa Brina sangat mirip dengan sang ibu, tentu saja ia
tetap ingin melihat wajah asli orang tuanya. Sayang sekali. Tapi untuk saat
ini, ia sudah lumayan berhasil melupakan kenangan buruknya.
“Loh
Brina, ngapain kok melamun?”, tanya si nenek tiba-tiba
“Ih
nenek, kagetin Brina aja deh. Brina cuma’ keinget mama dan papa kok. Enggak
apa-apa”, jawab Brina.
“Nenek
kira, kamu mikirin nak Daffa”, goda nenek
“Nenek…
Apaan sih… Daffa cuma’ temen nek, gak lebih”, ucap Brina
“Siapa
tau kan? Haha”
“Idih
nenek… Udah ah. Nih, Brina udah nyiapin piring-piring nya. Lha masakannya
mana?”
“Tuh.
Udah ada kan di atas meja. Kamunya melamun, sampai gak liat-liat”
“Haha,
bagus, nenek berhasil kerjain aku lagi”
“Kalau
begitu, ayo makan” kata nenek
Malam itu, suasana sangat amat tentram dan nyaman.
Walau hanya tinggal berdua, keluarga itu tampak hangat sekali. Tak pernah ada
amarah. Hanya ada canda tawa yang mambahagiakan. Pantaslah, apabila Brina
sangat menyayangi neneknya seperti ibu kandung sendiri.
Setelah selesai makan, Brina segera membantu neneknya
mencuci piring dan membersihkan meja makan. Kemudian, ia pun melakukan kegiatan
rutinnya sebagai seorang siswa. Menata buku pelajaran dan… Belajar. Tapi,
tiba-tiba ia merasa haus. Akhirnya pun ia turun lagi ke dapur untuk mengambil
minum. Sambil meminum segelas air putih, ia berjalan-jalan melihat
lukisan-lukisan yang tergantung di dinding-dinding rumahnya. Setelah
berlama-lama melihat lukisan, tanpa ia sadari, ia mulai terbawa suasana oleh
lukisan itu. Pikirannya mulai melayang-layang, berimajinasi mencari kotak harta karun seperti bajak laut. Brina pun menyentuh lukisan itu dan… Ia mencoba-coba mengangkat
lukisan itu.
“Siapa
tau ada kotak rahasia… Hehe”, batin Brina
Dan
ternyata benar dugaan Brina. Ada sebuah kotak kecil yang tersembunyi di balik
lukisan kuno itu. Seringai kepuasan pun tercetak di wajahnya. Matanya bersinar tajam. Ia sudah terlalu diburu rasa penasaran, tanpa tahu bahwa segala hal yang terlalu itu merugikan.
“Aku bawa
ke kamar ah… Mumpung nenek tidak tau”.
Setelah Brina sampai di kamarnya, ia segera mengunci
pintu kamarnya dan cepat-cepat membuka kotak itu. Ternyata di dalamnya ada sebuah
buku tebal. Buku itu
menyerupai buku diary yang sudah usang. Sampulnya sangat bagus, berwarna
pelangi. Di bukanya buku itu dengan hati – hati. Di lembaran kertas pertama buku itu
tertulis nama Shabrina Cyntia Armadila.
Brina pun membatin, “Apa? Inikan namaku? Kok bisa ya?”.
Brina
sungguh bingung dengan semua keanehan ini. Ia pun membuka selembar kertas kedua
pada buku itu. Lalu, ia menulis sesuatu. “Hai!
Namaku Brina. Aku bingung,
mengapa ada namaku di kertas
pertamamu?”. Tiba – tiba muncul
sebuah tulisan baru. Seperti sebuah balasan. “Brina. Kau adalah pemilik asli buku ini. Ini semua sudah
takdir. Kita memang sudah ditakdirkan untuk
bertemu”. Brina menulis lagi. “Diary, apa kau bisa membalas pesanku?”
Diary pun membalasnya. “Tentu bisa. Aku adalah
sahabatmu mulai sekarang. Tulislah apa yang menjadi masalahmu di selembar –
demi selembar kertasku ini”. Brina mulai menulis, “Diary, sebenarnya ada satu
hal yang sangat ku inginkan dari dulu. yaitu aku ingin melihat dan mengetahui
bagaimana kejadian saat pesawat Mama dan Papaku mengalami kecelakaan”.
Diary pun menjawab, “Aku bisa membuatmu melihat semua
yang kamu inginkan. Apa kamu siap? Tapi perlu kau ketahui, bahwa mengulang kembali
kejadian-kejadian yang telah berlalu tidak semudah yang kau bayangkan”. Brina kembali menulis, “Benarkah?
Baiklah. Aku akan selalu siap. Tak apalah diary, walau itu tak mudah, aku ingin
sekali saja melihat wajah orang tuaku. Aku takkan menyesal telah mengetahui masa lalu. Diary, mulai saat ini aku panggil kamu pelangi ya!”. Lalu, muncul kembali jawaban, “Terserah kamu. Yang penting, kamu harus bertanggung jawab. Kau tau
Brina, Itu nama
yang indah”.
Tiba –
tiba terlihat sebuah cahaya yang amat sangat terang keluar dari buku diary itu.
Cahaya itu membuat semua yang ada disekeliling
Brina menjadi tak terlihat. Saat Brina membuka matanya, dia
tak tahu ada dimana dirinya saat ini. Dia berpikir bahwa dirinya berada di alam
antah – berantah. Brina amat kebingungan. Sayup – sayup Brina mendengar sebuah
suara. “Brina... Brina... ikutlah aku! Aku ada di sini”. Sahut si pemilik suara itu. Brina
pun segera berlari menuju asal suara itu. Dia tak menemukan apapun! Hanya saja
dia melihat sebuah bandara di depannya.
“Bandara? Oh My God….”, pekik Brina tiba – tiba. Brina tak sabar lagi
untuk segera masuk ke dalam bandara itu.
Di dalam bandara itu, Brina tengak-tengok,
clingak-clinguk, mondar-mandir tak tentu arah. Ia pun sangat lelah, karena
telah mencari kedua orang tuanya dan tidak menemukannya. Apalagi, ia kan tidak
mengenal wajah orang tuanya. Di sudut belakang dirinya, terdengarlah riuh-riuh
orang berbicara. Ia pun terusik untuk melihatnya.
“Bapak?
Bukannya bapak dan ibu adalah teroris itu?”
“Ya,
mereka teroris… Teroris”
“Diam di
tempat pak, bu, dan jawab pertanyaan saya. Siapa bayi itu?”
“I… I…
Ini bayi kami pak”
“Iya, ini
bayi kami”
Tiba-tiba,
ada sepasang suami istri yang berlari dan mendorong-dorong semua orang yang
tengah mengintrogasi dua orang teroris. Selanjutnya, ada seorang lelaki dan perempuan yang mengikutinya sambil membawa beberapa barang, terlihat, seperti mereka adalah satu rombongan.
“Pak itu
bayi kami pak…”, kata sang suami
“Iya pak…
Itu Brina… Putri kami… Hiks”, kata sang istri sambil menangis, karena bayinya
diculik.
Brina
yang menyaksikan pemandangan itu, terlonjak kaget begitu mengetahui namanya
disebut.
Brina
bergumam sendiri, “Ini tak mungkin. Aku… Aku…Ah, siapa mereka? Orang tuaku?”
Lalu, tak berapa lama kemudian, karena sepasang suami
istri itu terus meminta anaknya dikembalikan, si teroris laki-laki pun
mengeluarkan pistolnya dan menembak sang suami…
“Armo…”,
jerit sang istri
Lalu,
tiba-tiba semuanya pun menjadi gelap. Brina terhuyung dan terjatuh. Setelah
beberapa saat, ketika ia berhasil membuka matanya lagi, ia mendengar suara,
“Kau sudah puaskan dengan film tragedi tadi?”.
“Tidak.
Karena, aku belum tau, dibawa oleh siapa bayi itu”, jawab Brina
“Bayi
itu, tetap di bawa oleh si teroris. Hingga akhirnya, setelah lima bulan, si
teroris pun tertangkap dan bayi itu diadopsi oleh sahabat orangtuamu, Ibu Dila alias nenekmu”
“Apa? Aku anak adopsi? Aku tak punya orangtua? Mengapa sungguh buruk takdirku. Jadi, selama ini nenek hanyalah orang asing? Mimpi apa ini? Katakan padaku bahwa semua ini hanya mimpi! Mimpi!”
“Tidak Brina, kau memiliki orang tua ini kenyataan, kau harus sadar dan mengerti. Kau ingin mengetahui semuanya bukan? Ini lah kenyataan, lalu mengapa kau menyesal?”
“Lupakan, aku tak mau yang seperti ini. Kembalikan aku, kembalikan !”, ucap Brina. Ia terlihat rapuh. Terduduk dengan hujan yang mengguyur tubuhnya. Hujan yang ia keluarkan sendiri, air mata.
“Baik, gadis manis, kurasa kita memang sudah cukup. Sekarang, pejamkan matamu, maka aku akan
mengembalikanmu”, jawab buku diary itu.
Semuanya kembali sama. Brina kembali berada di dalam
kamarnya. Setelah kejadian itu, Brina seakan lupa pada apapun. Ia seperti amnesia. Lupa dirinya, keluarga, bahkan pengalaman menjelajah waktu, ia juga lupa. Mungkin, itu karma. Karena ia telah mengingkari janjinya bahwa ia takkan menyesal. Atau mungkin, itu hanya efek dari menjelajah waktu, atau, buku diary itu berbaik hati, untuk tidak menambah luka, maka ia menghilangkan pikiran Brina. Dan tentu saja, mereka pun hidup bahagia selamanya.
Memang kembali ke masa lalu itu tak mudah. Dan semua ada resikonya. Tapi… Ada satu hal yang mengganjal, bahkan tiada siapapun yang menyadari. Hilang seperti asap, tak berbekas.
Memang kembali ke masa lalu itu tak mudah. Dan semua ada resikonya. Tapi… Ada satu hal yang mengganjal, bahkan tiada siapapun yang menyadari. Hilang seperti asap, tak berbekas.
Kemana
buku diary itu pergi???
Hei guys, para coro fans, ini edisi perdana, so, harap maklum kalau masih abal :v. Ini cerpen, dan gak ada lanjutan. Gak usah sungkan-sungkan kalau mau ngasih saran dan komen, sangat membantu kok guys ^^. Sampai ketemu lagi, guys, *ngilang dulu*, *cling*, bye. =D
*NB : Buat para copier, dimohon izin atau tidak mengcopi yah.. Ini ada hak ciptanya ^^
No comments for "THE PAST"
Post a Comment
silahkan berkomentar,karena itu sangan berarti bagi kami.