HYPOCRITE? : "SATU : Agak"


Huhuhu.. lanjutan kawan coro. Corolita masih sempet aja bikin lanjutan seminggu ini :v 
Thanks yang sudah baca chap sebelumnya. Ini ini... silahkan lagi. 

Lanjutan...

SATU : Agak
“Yang diinginkan hanya kepedulian, kepekaan, juga perhatiannya. Tak lain itulah yang diinginkan perempuan dari seorang laki-laki. But, every person has different calculations.”

Hijau Toska
      “Zil, jadian yuk!” seseorang tiba-tiba berteriak dari bawah. Suara serak laki-laki.
         Sontak mataku yang tertutup rapat karena nostalgia terbangun mendengar suara panas yang mengenai tepat gendang telingaku. Rerimbunan pohon dan angin memecah suara itu pergi menjauh dari sambaran pendengaranku, menghilangkan kepenatan untuk bertemu dengan masalah percintaan, lagi. Segera aku merangkak menuju tepi atap agar tak jatuh dari ketinggian 5 meter. Mendongakkan kepala agar tahu siapa yang berteriak sekencang singa marah malam-malam begini. Tetapi saat mataku mulai menelusur ke bawah, tak ada siapa-siapa selain pot-pot bunga pemberian nenek dari Bogor yang tergantung indah di pagar. Aah, keisengan anak-anak desa sebelah lagi mungkin. Itu membuatku cukup muak, apalagi dengan tingkah mereka yang begitu kekanak-kanakkan.
      Tak kurasakan angin berhembus kencang dan bintang-bintang sudah tak tampak dalam kubah atap rumahku. Awan hitam berselimut cercahan kilat bergulung di atasku. Semakin kueratkan jaket yang kukenakan dan melengos pergi ke arah tangga rumah, menatap jutaan tetesan air langit lalu menutup pintu. Hujan deras dengan cepat terdengar saat kuturuni satu per satu anak tangga dengan lantai warna hitam krem. Lampu-lampu gantung bergoyang seakan mengikuti tarian angin di luar sana. Dinding-dinding pinggir tangga beradu menahan kuatnya dentuman hujan, serta ibu yang sudah  berteriak memanggil namaku agar cepat turun.
        Seketika telepon genggamku bergetar beberapa kali secara singkat. Menandakan ada pesan yang masuk tak beraturan. Serpihan-serpihan berlian garam seakan jatuh mengenai mataku saat melihat pesan yang beberapa kali masuk. Gilaa, apa sih yang dia cari? Pesan-pesan tak bermoral yang Zoro kirimkan memang membuat hatiku agak sakit. Duri-duri dari pesan ini terlontar tepat mengenai seluruh tubuhku, bahkan mataku. Aku memang berniat tidak membalas, biarkan dia sendiri yang sadar. Mungkin, bayang-bayang kesenanganku memang tak pernah jadi kesenangan, karena hati seorang laki-laki tak dapat dibayangkan, seperti kilat tak berguntur.
       Jari-jariku bergerak menggeser touchpad asal-asalan, berusaha menemukan foto yang kupikir-pikir ingin kupublikasikan. Dua orang dengan tampang berbeda, perempuan dan laki-laki, sama-sama tinggi, bisa dibilang rekan kerja. Aku dan Zoro, entah mengapa bahagiaku ini ingin kutampakkan pada dunia luar sana, berbagi bahagia dengan selapis foto berwarna dengan objek penuh bunga di atasnya. Lipatan-lipatan tawa kutorehkan dalam wajahku saat kudapatkan foto yang tepat, manis. Dan, benda tak bernyawa ini bergetar kembali.

         From : Zoro
      Besok rapat, jangan terlambat. Jam 1 siang kita kumpul.
     
      To : Zoro
      Ya
                          Send

      From : Zoro
      Cuek lu
     
      To : Zoro
      Cuek? Gile lu, kaga nyadar-nyadar kalo lu yang dinginnya kaya
      es batu -100 derajat.
                           Send

      From : Zoro
      Serah lu dah. Lu maunya apa?

      To : Zoro
      Maunya lu doang.
                           Send

      From : Zoro
      Maksud lu?

              Kututup benda gila yang kupegang ini dengan sangat keras. Kurebahkan badanku di atas kasur dengan seprei warna krem ungu dan menutupi seluruh tubuhku dengan selimut kesayanganku. Berusaha meredam emosi yang memuncak akibat satu orang laki-laki yang tak pernah peka dengan kata-kata maupun perlakuanku padanya. Dan mungkin, sekarang aku sudah berjalan di atas langit dan tergeletak di sana. Merasakan hembusan angin malam sejuk dengan nada dentuman tetesan hujan. Berkelana dalam mimpi adalah jurus ampuh menghilangkan keinginanku berdebat dengan laki-laki itu, Zoro.
●●
                Paginya, yang kulihat hanyalah ruangan biru dengan gorden oren dan seorang wanita yang tak lain adalah ibuku. Wanita itu duduk dengan bersilang kaki, mengenakan pakaian hijau seragam kantornya, juga tas krem yang ia taruh di atas meja. Buku tentang ortopedi yang ia baca tak lama kemudian ditutup dengan cukup keras, hingga buku tebal itu mengeluarkan suara dentuman yang tak mengenakkan telinga. Dan hingga saat itu, aku tak tahu mengapa aku ada di ruangan asing ini. 

       Bersambung...

Terima kasih lagiiiiii..... dadah, jumpa di next chapter. 

No comments for "HYPOCRITE? : "SATU : Agak""