HYPOCRITE? : "Prolog"



Holoo.. Terbitan perdana ini. Dimaklumi lah.. 
Nah, untuk kali ini, siapa yang pernah munafik tentang masalah CINTA? 
Cinta??? apa sih itu cinta? hmmm.. jujur nih, aku belum pernah tahu apa itu cinta dan bagaimana rasanya, diantara kalian yang baca ini, mungkin pernah merasakan, bisa sharing-sharing ^^ 

Ini cerita bersambung, jadi nikmatin aja yaa ^^ Thanks.

HYPOCRITE?
         Prolog

Biru
Gelapnya sirna, kumpulan rona-rona cahaya para bintang mengelabuhi langit malam. Tak begitu sunyi, cukup ramai saat aku berusaha memasuki rumah kembali. Aku juga cukup senang, bintang hari ini begitu ramai, rasi-rasi bertumpuk membuat motif yang sesuai. Orion, Andromeda, Cassiopeia, Crux, bahkan bintang-bintang barat pun tampak masuk dalam lingkup atap rumahku. Wajahku tersinar dari bawah karena cahaya layar telepon genggam yang dari tadi tak bergetar. Sudah lama aku menunggu benda tak bernyawa ini untuk menggetarkan genggaman tanganku. Bukan siapa-siapa, hanya pesan dari teman laki-laki yang tak pernah mengerti apa isi pikiranku, tak pernah mengerti bagaimana aku berusaha meredam emosi dalam diriku, bahkan saat aku mengucapkan perasaanku yang cukup membuat sakit hati, ia tetap diam. Meskipun begitu, bagaimana bisa aku ini marah dengannya? Dia pun hanya seorang anak laki-laki rumahan, tak begitu polos, namun cukup cukup percaya diri dan manis. Seorang anak laki-laki manis bertubuh jangkung, dengan otak pintar angka-angka, dan juga rasa bijaksana. Namun yang aku temui, hanya anak laki-laki yang suka berbicara kasar tak pernah tahu perempuan, hidup hanya tentang permainan benda tak berkomitmen, selalu menghadap monitor hanya untuk meraih skor tertinggi bahkan pangkat tertinggi. Hanya meluangkan waktu saat tak bermain, itu pun sangat sedikit. Jujur, aku pun agak tak suka. Bodohnya aku, dia saja bisa meninggalkan aku sebegini lamanya, aku? Mana bisa. Waktu-waktu yang tertulis di atas pesanku tak berurutan. Terkadang, ia baru menjawab lima menit kemudian, sepuluh menit, bahkan lima belas menit. Tapi aku? Saat dia membalas, meski hanya satu kata, aku tak pernah mengulur waktu berbelit-belit untuk membuatnya menunngu, tak pernah diam bahkan terlalu dingin dengannya, juga tak pernah menggunakan kata kasar yang siapa tahu dapat membuatnya membenciku selamanya.
                Bintangnya masih berkelap-kelip. Seonggok layar benda yang dari tadi kupegang berkedip tak beraturan. Dia. Baru membalas setelah 30 menit terakhir aku membalas. Bersamaan dengan berjalannya waktu, bosan rasanya harus selalu menunggu dia membalas. Hingga akhirnya, aku memutuskan tak membalas pesannya. Berharap dia berpikir jika aku telah tidur. Mungkin cukup kasar, namun aku heran, bagaimana bisa, seorang anak perempuan lugu yang setiap hari selalu meminta maaf jika membuat kesalahan sedikit saja dibattle kan dengan anak laki-laki tak punya hati? Namun, semua itu tak perlu dinilai. Sayang, tetaplah sayang.  
                Zoro namanya, Arezki Arya Zevaro. Bisa dipikir-pikir lagi, nama yang mungkin sangat tidak cocok dengan karakternya yang terlalu cuek, dan takut dengan cinta. Berbeda dengan zoro asli yang romantis dan berani. Mungkin hatiku ini terlalu anarkis untuk mengharapkan hati polosnya yang tak tersentuh sedikit pun oleh dunia-dunia ganas di luar sana. Jadi, yang kupikirkan hanya berteman, namun mengagumi. Haha, yaaa, jangan terlalu memunafikkan diri kalian dengan cinta sepertiku ini. Masa muda-mudi kali ini tak perlu lah berdebat banyak tentang cinta, mungkin di antara kalian ada yang alergi dengan cinta, seperti Zoro ini.
                Bungkusan-bungkusan cahaya menyilaukan terbesit dalam mataku, sudah hampir sejam aku duduk di atap rumah. Hanya bernostalgia layaknya hobi ibuku, dengan bibir melengkung tak beraturan setiap detik, aku hanya terkikih saat membayangkan masa-masa SMPku dulu. Masa dimana labilnya hatiku membeludak naik, diikuti dengan tampang-tampang anarkis polos dari wajahku. Dan seketika, bayangan OSIS masuk dalam pikiranku, meluap demi kesosialan yang sudah kutunggu-tunggu dari SD. Tapi akhirnya, mampet juga saat ngeMOS adik-adik kelas. Berbeda dengan kepedean Zoro yang membuat tertegun saat melihatnya memainkan tangan dengan ratusan angka yang ia sajikan kepada adik-adik kelas. Jadi, aku ini menyukainya sejak saat itu? Saat SMP? Aku baru tahu. Oh ya, namaku Ozil. Ryanadhama Arezil, entah apa yang ada dipikiran ibuku hingga nama panggilanku mirip nama pemain sepak bola kewarganegaraan Jerman yang sekarang beralih pada klub Arsenal, ironis. 
                “Zil, jadian yuk!” seseorang tiba-tiba berteriak dari bawah. Suara serak laki-laki.

Bersambung...

Jangan copas ya... Oh, saya juga tau jika kalian nggak suka copas punya orang lain, ada hak ciptanya loohh... cie. Maaf jika agak, yaaah... amatiran ^^


Lanjut kapan-kapan ini.. ^^ Terima Kasih. Coo...roo..

No comments for "HYPOCRITE? : "Prolog""