HYPOCRITE? : "DUA : Cerita"

Lanjutan...
                DUA : Cerita
                “Karena setiap orang punya cerita, entah itu menyenangkan, menyedihkan, memalukan, bahkan dapat menjadi trauma. The story is life stars, happy or sad still shine in black sky.”


Abu-abu
            “Kenapa aku disini?” tanyaku dengan nada tak beraturan kepada ibuku.
            “Oh, sudah bangun rupanya. Kamu sakit,” kata ibuku dengan memegangi kepalanya.                           “Kenapa harus dibawa kesini? Tidak di rumah saja?”
“Kamu kena asma lagi. Jangan bawel, ibu dan ayah sudah cukup pusing mengurusi pekerjaan. Ditambah kakakmu yang akan masuk Universitas. Jangan buat ibu dan ayah khawatir lagi seperti ini. Lain kali jangan ke atas malam-malam, sudah tau jika kau punya alergi dingin, malah hujan-hujan.”
             “Ya.”
              Kutengokkan lagi kepalaku menghadap ke jendela ruangan. Sinar mentarinya menyilaukan mataku. Tangan kiriku sudah terbelit selang-selang dan jarum yang menancap santai di sana. Ah, untung aku tidak terbangun saat jarum-jarum itu mencari pembuluh darahku. Dan, tentu saja hari ini aku tidak dapat masuk sekolah. Padahal, ada rapat OSIS. Baiklah, siap-siap saja aku mendapat tonjokan kalimat-kalimat menyakitkan dari ketua osis. Tapi, mungkin saja dia mengasihaniku yang sedang sakit ini, dan mungkin dia akan menjadi orang yang halus kepadaku, haha khayal. Rambutku yang panjang masih terurai di atas bantal. Dengan tangan kananku, aku menopang badanku karena ingin duduk dan minum segelas susu hangat yang sudah tersedia di meja sebelahku. Badanku terasa berat, ditambah lagi ibuku yang dari tadi sudah membaca buku lain dengan sangat serius.
                “Zil, ibu kerja dulu. Nanti kalau ada apa-apa telpon ibu saja. Handphonemu ada di laci meja itu. Ayah sebentar lagi pulang, kakakmu juga akan datang menjengukmu,” kata ibu dengan mencangking tas kremnya dan dua buku besar tentang ortopedi. “Oh iya, Pak Arif tadi telpon ibu, katanya teman-temanmu nanti mau menjenguk, bersikaplah yang baik,” tambah ibu lagi.
                “Iya bu. Novelku mana?”
                “Ada di laci kedua, ibu hanya membawakan yang Dee Lestari saja,”
                “Ya, terima kasih.”
                “Oh, satu lagi, 10 menit lagi Mas Fatwa akan memberi obat infusmu. Jangan menangis seperti dulu. Kamu kenal Mas Fatwa, kan?”
                “Iya, Mas Fatwa yang disukai kakak itu, kan?”
                “Tau saja kamu. Sudah, istirahat saja. Ibu pergi.”
                Setelah pintu ruangan ini tertutup, rasanya sunyi. Hanya suara-suara roda yang didorong untuk mengantarkan makanan para pasien. Aku hanya menghembuskan nafas pelan, sebelum pintu yang tertutup tadi terbuka kembali.
                “Hai dek, lama nggak ketemu,” ucap seorang perawat laki-laki dengan ramah.  
                “Ya Mas, lama juga kan nggak ketemu Kak Roshi,” jawabku dengan sedikit terkikih.
                “Apa sih kamu ini. Yah, ngomong-ngomong kakakmu itu kok nggak pernah datang lagi ke rumah sakit?” tanyanya sambil menyiapkan suntikan yang akan menembus selang infusku.
                “Lah, ngapain ke rumah sakit? Orang nggak pernah sakit,” jawabku lagi sambil menaruh gelas susu yang kupegang 5 menit lalu.
                “Biasanya kan ikut ibumu buat nyari-nyari tugas.”
                “Mau ujian, Mas. Sudah 2 minggu nggak pulang dia.”
                “Oh, begitu rupanya. Sudah, nih.”
                “Apanya yang sudah?”
                “Ngasih obatnya. Mas pergi dulu, masih banyak kerjaan. Salam buat kakakmu, ya.”
                “Loh, nggak kerasa sakitnya. Eh, iya mas. Salam juga buat adeknya Mas Fatwa, ya. Semoga dinginnya hilang,” jawabku dengan tersenyum ramah.
                “Haha, nanti dia kesini kok. Yaah, semoga aja Zil.” Pintu coklat itu tertutup lagi sebelum senyumnya terlihat.